17 October 2006

Melatih Kesabaran Part II

Di hari yang sama, setelah berobat di rumah sakit, akhirnya aku meluncur ke kos-kosan. Setelah sholat dan bersih-bersih, akhirnya aku menuju angkot ke arah Kp. Melayu. Waktu menunjukkan jam 16.15. Kalau lalu lintas normal perjalanan dari Bekasi barat – Cipinang Timur memakan waktu 1-1.5 jam. Dan dari pertimbangan tersebut kemungkinan aku nyampe rumah saudara jam 17.30

Tapi apa boleh buat, lalu lintas di sepanjang jalan Kalimantan muuaaaceeet.

Aku sedikit risau, bisa ga ya nyampe sana sebelum berbuka puasa.

Di tengah kemacetan itu, si sopir berinisiatif untuk mengambil jalur alternatif beberapa kali. Dimulai dari bantaran Kalimalang sebelah selatan, kemudian masuk ke jalur alternatif lewat perumahan Jatiwaringin. Di track pencarian jalur nonmacet, akhirnya kumandang takbir berbuka terdengar, alhamdulilah angkot pas di posisi sebelah warung penjual minuman, akhirnya secara spontan aku langsung beli minuman botol dan allhamdulillah sueger temen rasane. Apalagi ada adek-adek pelajar SMU yg menawarkan kurma, wah asyiknya. Setelah belok sana belok sini akhirnya lepas juga dari kemacetan. Waktu itu sampai WIKA sudah jam 18.15. Ya Alloh aku ga bisa tepat waktu nih.

Kemudian aku meluncur ke saudaraku yang pertama untuk memberikan bingkisan lebaran. Dan dilanjutkan ke saudaraku yang kedua di daerah Cipinang Timur juga. Dan ternyata beliau berdua telah menunggu untuk berbuka puasa bersama, waktu itu sudah jam 19.30. Betapa sabarnya saudaraku untuk menunggu kedatanganku. Terima kasih ya……

Waktu itu sekalian menginap di rumah saudara…..

Tips : kalau mau naik angkot lewat daerah Kalimalang, lebih baik sebelum jam 4, karena kalu sudah masuk jam 4, rute Jalan Kalimalang (Bekasi Barat) arah ke Jakarta memakan waktu hampir 2 jam.

Melatih Kesabaran Part I

Hari yang cerah saat itu, matahari bersinar tersenyum dan menyapa penduduk negeri. O iya hari ini aku musti berobat….

Berhari-hari batuk kumat dan entah apa yang menjadi penyebabnya. Begitu juga kulit ini kok terasa gatal-gatal ya beberapa hari belakangan ini.

Akhirnya kulangkahkan kakiku menuju ‘tempat orang sakit ‘, untuk meminta saran dan tentunya obat penyembuh sakit.

Waktu itu jam menunjukkan pukul 10 pagi. Aku bergegas naik angkot ke arah salah satu RS di bekasi barat. Akhirnya sampai dan kemudian menuju basement untuk mendaftar di klinik. Sebenarnya aku agak ragu untuk memilih apakah harus ke poli umum atau ke poli khusus terlebih dahulu.

Kuputuskan untuk mendaftar ke poli umum terlebih dahulu dikarenakan waktu itu antriannya ga terlalu panjang dan nomor urut antrianku adalah 14. Ketika aku mengantri ternyata di dalam sudah ada pasien dengan nomor urut 11.

Mm....ntar lagi deh giliranku berkonsultasi. Akhirnya aku dipanggil suster untuk segera masuk ke ruangan pak dokter.

Setelah diperiksa, ternyata bukan gangguan yang berat, hanya batuk biasa, kemudian pak dokter mengeluarkan resepnya.

Tanpa babibu aku segera meluncur ke kasir utk pembayaran dan mengantri di loket obat untuk mendapatkan racikan dari sang apoteker.

Kemudian aku mengayunkan langkah ke poli khusus, dan akupun antri utk mendaftar pada dokter kulit. Ternyata aku dapat nomor antrian 87. Dari display di luar ruangan dokter tersebut terdapat informasi bahwa pasien yang sedang didiagnosa adalah nomor 31. Wah.....panjang juga antriannya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11.30.

Rencana sore hari mau ke rumah saudara yang ada di Cipinang utk bersilaturahmi. Dan ternyata benar dugaanku bahwa lama sekali aku menunggu, sampai-sampai aku tertidur di bangku ruang tunggu.

Aku udah bersikeras kalau sampai jam 14.30 urutan pasien masih di urutan 68, maka aku harus cabut, dikarenakan aku sudah berjanji utk bersilaturahmi sore hari. Menjelang detik-detik pukul 15.00 tyt urutan baru ke angka 79. Akhirnya aku berniat utk meng-cancel karena waktu mepet.

Sejurus kemudian aku ke t4 pendaftaran dan menginformasikan bahwa aku akan cancel, namun petugasnya memberitahukan bahwa harus di-sign dulu ama dokter yang bersangutan. Dan akhirnya aku bilang ke susternya utk cancel, namun betapa bahagianya aku, bahwa diapun memberi opsi utk tetep cancel atau diteruskan untuk cek. Dan tanpa babibu lagi aku menyetujui untuk diproses.

Akhirnya penantian panjangku selama hampir 4 jam selesai sudah untuk sekedar cek kesehatan....Masya Alloh...

Tips : Berarti kalau capek menunggu, mending alasan aja untuk cancel, supaya didahulukan, hehehehe

10 October 2006

Tentang keluarga


Sekilas tentang keluarga

Foto ini diambil ketika 4 hari setelah gempa terjadi di wilayah Jogja dan sekitarnya, termasuk Klaten (akhir bulan Mei 2006). Alhamdulillah keluarga semua sehat wal afiat.
Ketika gempa terjadi, anggota keluarga yang merasakan dahsyatnya gempa ada 6 orang (termasuk si kecil Fathi).
Yang laennya, aku masih di Bekasi dan mas Fuad masih di Prabumulih. Akhirnya setelah beberapa hari kemudian, aku pulang menengok keluarga di rumah, disusul oleh kakak.
Momen ini sangat langka terjadi, karena selama kurang lebih 2 tahun, aku tidak bertemu dengan mas Fuad yang ada di Prabumulih. Waktu lebaran tahun kemaren, kami ga bisa bertemu, karena saya ga bisa mudik. Foto diatas sebenarnya kurang satu, yakni mas Romdhoni (suami Mbak Ida). Foto diambil di ruang tamu pada malam hari.
Keterangan dari foto :
*Berdiri, dari kiri ke kanan :
- Mas Suprapto (suami Mbak Nanik)
Sudah berumah tangga selama 2 tahun lebih 2 bulan. Saat ini bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten. Tempat tinggal di Klaten. Asal dari Ponorogo.
- Mas Fuad
Sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, tepatnya 9 Nopember 2006 di Prabumulih. Mendapat calon istri orang asli Prabumulih. Saat ini bekerja sebagai karyawan PT Intan Pariwara yang bergerak di bidang penerbitan buku. Anak ketiga dari keluarga ini.
- Agus
Anak keempat dari keluarga ini yang sampai sekarang masih menjadi karyawan di PT LG EIN, Bekasi. Sekarang bersama bidadari dari Wates-Jogjakarta.
- Efendi
Bulan September kemaren barusan wisuda di Surabaya, jurusan D3 Computer Control ITS Surabaya. Sekarang masih bertempat tinggal di Surabaya. Anak kelima dari keluarga ini.
*Duduk, dari kiri ke kanan :
- Mbak Nanik
Anak kedua yang telah melangsungkan pernikahan pada Agustus 2004. Belum dikaruniai seorang putra. Sekarang bekerja sebagai karyawan di Akper Muhammadiyah Klaten.
- Ibunda
Sekarang Ibu berusia 58 tahun, bentar lagi mau pensiun dari Guru. Ditinggal almarhum Bapak tahun 1994. Sekarang masih mengajar di SDN Karang I Wedi-Klaten.
- Mbak Ida
Anak pertama dari keluarga ini. Sekarang sebagai wiraswasta/berdagang di Wedi. Dikaruniai seorang putri yang berusia 4 tahun.
- Fathi
Putri pertama dari Mbak Ida. Sekarang menginjak usia 4 tahun dan masih sekolah TK di Pandes.
Itulah sekilas dari history foto ini diambil. Ini adalah momen yang jarang terjadi. Semoga besok lebaran semuanya bisa berkumpul.



Kisah seekor kelinci

Seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai, Tiba tiba
datang se-ekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya, Lalu
kelinci itu berkata: "Kalau memang kamu berani, hayo kita
berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan
yang menang, dan saya yakin saya akan menang."

Sang Rubah jantan merasa tertantang, "dimanapun jadi, Masa sih
kelinci bisa menang melawan aku?" Merekapun masuk ke dalam sarang
kelinci, Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil
menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya
dengan nikmat.

Sang Kelinci kembali bersantai, Sambil memakai kaca mata hitam dan
topi pantai Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak
memangsanya, Lalu kelinci berkata : "Kalau memang kamu berani,
hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi
santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang. "Sang
serigala merasa tertantang, dimanapun
jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?"

Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Lima belas menit kemudian
sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan
melahapnya dengan nikmat.

Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan
merebahkan diri diatas pasir, Tiba tiba datang seekor beruang
besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata: "Kalau memang
kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang
kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan
menang. "Sang Beruang merasa tertantang, "dimanapun jadi, Masa
sih kelinci bisa menang melawan aku?" Merekapun masuk ke dalam
sarang kelinci, Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar
sambil menggenggam Setangkai paha Beruang dan melahapnya dengan
nikmat.

Pohon kelapa melambai lambai, Lembayung senja sudah tiba, habis
sudah waktu bersantai, Sang Kelinci melongok kedalam lubang
kelinci, sambil melambai "Hai, keluar, sudah sore, besok kita
teruskan!!"

Keluarlah se-ekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya.
Sambil menguap Harimau berkata " Kerjasama kita sukses hari ini,
kita makan kenyang Dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang."

Nb.
The Winner selalu berfikir mengenai kerja sama, sementara
The Looser selalu berfikir bagaimana menjadi tokoh yang paling
berjaya.

Untuk membentuk ikatan persahabatan dan persaudaraan harus ada
kerendahan hati dan keikhlasan bekerja sama:
(MESKIPUN) DENGAN SESEORANG YANG KELIHATANNYA TIDAK LEBIH BAIK
DARI KITA

Berpikir Sederhana

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan
membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa
hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya
pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu
di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-
binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang
hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan
parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa
diperolehnya.
Tetapi si pemburu berpikir, "untuk apa merepotkan diri
dengan seekor kelelawar?
Apakah artinya dia dibanding dengan seekor
rusa besar yang saya incar?"

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti
di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia
berpikir, "Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan,
sia-sia." Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-
langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi
ternyata, ah... kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia
menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.

Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu
sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika
rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak,
Rusa!!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum
sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh
sesuatu yang diinginkannya.
Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan
bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-
kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa
mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang
orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak
mendapatkan apa-apa.

Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang
mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim,
baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak
menemukan siapa-siapa...

Dari Milis sebelah

Kisah Sang Tikus

Seekor tikus mengintip celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya, saat membuka sebuah bungkusan. Ada makanan pikirnya? Tapi, dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan; "Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!"

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggrauki tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku Pak Tikus. Aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku sakit kepala-lah."

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing. Katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!"

"Wah, aku menyesal dengan khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "Tetapi tak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu senantiasa ada dalam doa-doaku!"

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu.

"Oh?

Sebuah perangkap tikus?

Jadi saya dalam bahaya besar yah?" kata lembu itu sambil ketawa, berleleran liur.

Jadi tikus itu kembalilah ke rumah, dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh-sungguh sendiri.

Malam tiba, dan terdengar suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsa. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.

Si istri kembali ke rumah dengan tubuh menggigil, demam. Dan, sudah menjadi kebiasaan, setiap orang sakit demam, obat pertama adalah memberikan sup ayam segar yang hangat. Petani itu pun mengasah pisaunya, dan pergi ke kandang, mencari ayam untuk bahan supnya.

Tapi, bisa itu sungguh jahat, si istri tak langsung sembuh.
Banyak tetangga yang datang membesuk, dan tamu pun tumpah ruah ke rumahnya. Ia pun harus menyiapkan makanan, dan terpaksa, kambing di kandang dia jadikan gulai. Tapi, itu tak cukup, bisa itu tak dapat ditaklukkan. Si istri mati, dan berpuluh orang datang untuk mengurus pemakaman, juga selamatan. Tak ada cara lain, lembu di kandang pun dijadikan panganan, untuk puluhan pelayat dan peserta selamatan.

Kawan, apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu pikir itu tidak ada kaitannya dengan kamu, ingatlah bahwa apabila ada "perangkap tikus" di dalam rumah, seluruh "ladang pertanian" ikut menanggung resikonya.

Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari pada baiknya.

Sumber : Milis Tetangga.

09 October 2006

Buka Bersama Busuk Jakarta'ers

Rencana buka bersama temen-temen busuk ‘TI-ITS 2000’ akhirnya jadi juga. Semuanya sepakat kalau acaranya akan diadakan di daerah Pondok Indah. Setelah dapat informasi dari seorang temen, maka acara buka bersama diadakan di Warung Sederhana di kompleks Masjid Raya Pondok Indah.

Hari Minggu, 08 Oktober 2006 temen-temen busuk yang dari Bekasi mengkoordinasikan untuk datang ke acara buka bersama tersebut. Informasi aja di Bekasi ini ada 10 orang Busuk’ers yang tinggal yaitu : Martino (Itonk), Aldi (Kenchot), Dodiek, Windi, Aku, Suryo (Kuntal), Yulia, Yuli, Nungky dan Firly. Setelah kontak2 akhirnya yang bisa memastikan datang ada 5 orang yaitu Dodiek, Windi, Aku, Aldi, dan Firly. Dan ada tambahan tamu istimewa dari Surabaya yang barusan periksa kesehatan di Jakarta yakni Ari.

Dengan memakai mobil Firly, kami bertujuh (plus suami Firly à Okky) akhirnya menuju ke tempat buka bersama di Pondok Indah. Dari Perumahan Century 2 menuju Pondok Indah melewati tol baru yakni JORR (Jakarta Outer Ring Road). Selama 30 menit akhirnya kita sampai ke tempat yang dituju. Disitu ternyata temen-temen dah pada kumpul, hehehehehe.

Senang juga bisa berbuka puasa bareng ama satu angkatan. Memang ya kalau sudah ngumpul itu, banyak kenangan yang bisa diungkapkan. Lagian temen2 Jakarta secara berkala juga mengadakan pertemuan, sehingga suasana bertambah akrab aja. Temen-temen yang datang waktu itu adalah :

- Dono - Iswanto - Hegi - Eko ‘Mbaung’

- Firman - Fandi - Hari M - Mandra

- Aku (Agus) - Dodiek - Ari - Aldi

- Dilla - Windi - Suroy - Fay

- Manama - Dina - Firly

Akhirnya setelah selesai buka puasa bareng, kita jalan-jalan ke PIM. Sekitar 45 menit kita jalan bareng, akhirnya waktunya untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Dan kita yang Bekasi’ers menuju ke tempat Okky yang sedang buka bersama juga.

Disitu ternyata ada juga Widhie Akbar temen seperjuangan ketika di Hijau - Hitam seangkatan dengan Okky. Ya jadi bisa kangen-kangenan juga soalnya dah lama ga ketemu. Tak terasa waktu 40 menit kita ngobrol bareng. Dan akhirnya karena sudah malam (waktu mwnunjukkan pukul 21.30), kita pulang ke Bekasi.

Buka puasa di Pasaraya Blok M

Buka puasa bersama serasa mengasyikkan. Walaupun kala itu cuman 3 orang aja. Aku, Adek ama Pak Anto. Kita bertiga mencari tempat di foodcourtnya Pasaraya Blok M. Jam sudah menunjukkan pukul 17.35, berarti kurang 15 menit lagi buka puasa. Kami bertiga kemudian mencari tempat yang agak longgar untuk berbuka. Ternyata di situ sudah banyak tempat duduk yang terisi.

Setelah berputar-putar akhirnya kami menemukan kursi yang agak longgar. Dan akhirnya kami pun segera memesan menu untuk berbuka. Ada kolak pisang, dan soto ayam ditambah dengan teh botol. Waktu berbuka selama 30 menit, aku ama adek menuju musholla di sebelah terminal Blok M, sedangkan Pak Anto langsung meluncur ke rumah temennya.

Setelah selesai sholat, akhirnya kita pun menuju ke terminal Blok M untuk pulang ke kosan. Pertama nunggu KOPAJA 57 yang ke arah Cililitan untuk nganterin Adek yang mau nginep ke rumah Mbak Yas di Citayam. Setelah itu giliranku untuk menunggu bis AC05 jurusan Bekasi Barat.

Setelah menunggu kurang lebih selama 30 menit, akhirnya bis tersebut lewat. Menurut perhitungan saya, tidak akan sampai berdiri karena jam sudah menunjukkan pukul 19.30 pada hari Sabtu tersebut. Dan ternyata dugaanku salah, waktu masuk bis ga ada lagi kursi kosong yang bisa ditempati.

Yaaa…akhirnya jadi berdiri deh di bis AC05. Tak tahunya semakin lama bis berjalan, para penumpang dijejalkan masuk untuk memenuhi seat ‘beridiri’. Dan keadaan sampai gaduh, karena kernet bis terlalu nafsu untuk memasukkan penumpang yang didalamnya sudah penuh sesak dengan penumpang. Ada yang nyeletuk : “ Wah, ini bis AC kok kaya bis Ekonomi ya, apalagi udaranya penuh dengan parfum alami manusia alias keringat. Dan juga berdiri berdesak-desakan.“

Saya pun juga mersakan bagaimana rasanya berdiri dari Terminal Blok M sampai tol Jatibening. Setelah tol Jatibening, akhirnya dapat tempat duduk juga. Sesampai di tol Barat, badan ini terasa diinjak-injak, tulang terasa remuk.

Ah.....lumayan berharga juga pengalaman malam itu.

Seorang Bapak yang bijak

Siang itu, jam sudah menunjukkan jam 11.45, berarti waktu Dzuhur hampir tiba. Akhirnya aku bergegas meluncur ke Masjid Istiqlal aja. Mulailah aku mencari Kopaja yg lewat Istiqlal, akhirnya sudah kutemukan KOPAJA 20, jurusan Senen-Pulogadung yang lewat IstiqlaL

Sampai di KOPAJA ternyata masih ada tersisa satu buah kursi kosong yang bisa aku duduki. Mmm..akhirnya lega deh bisa duduk. Disampingku ada laki-laki sepuh dengan senyuman yang merekah. Tiba-tiba beliau membuka percakapan.

Bapak : “ Mmm…mau kemana Nak ? “, tanyanya

Akoe : “ Mau ke Istiqlal, Pak. “

Bapak : “ Oo…mau sholat Dzuhur ya, jam berapa sekarang ?”

Akoe : “ Sekarang sudah jam 11.47 Pak.”

Bapak : “ Omong-omong, darimana Dek ? “

Akoe : “ Dari Bekasi Pak. “

Bapak : “ Sudah kerja atau baru nyari kerjaan di Jakarta ? “

Akoe : “ Iya Pak, sudah kerja jadi buruh di daerah Cibitung.”

Bapak : “ Dulu sekolahnya dimana ? Di STM mana ? “ tanyanya lagi

Akoe : “ Dulu saya sekolah di Klaten, kemudian melanjutkan ke Surabaya. Alhamdulillah sekarang dah kerja Pak. “

Bapak : “ Berapa tahun di Surabaya ?

Akoe : “ Saya kuliah agak lama Pak, sekitar 4,5 tahun baru lulus “

“ Bapak kok sendirian, kalau boleh tahu umur Bapak berapa ?”, tanyaku

Bapak : “ Umur saya 69 tahun dek. “

Akoe : “ Kelihatannya kok masih sehat begitu Pak, apa resepnya ?”

Bapak : “ Resepnya sederhana kok dek, banyak minum air putih, makan makanan yang berserat (kurangi konsumsi daging), terus makan sedikit nasi. Makan juga ubi-ubian dan jagung. Banyak beraktivitas supaya otot-otot kita tetep terlatih. Kalau saya cuman tidur-tiduran di kasur malah badan ini terasa capek Dek. “

Akoe : “ Bapak tadi darimana ? Pasar atau ke plaza situ ? ‘

Bapak : “ Oh, engga Dek, saya tadi baru ke rumah temen SMU yang lama ga ketemu. Ya supaya jalinan silaturahmi masih tetep terjaga. “

Akoe : “ Berarti Bapak sering jalan-jalan ya ? “

Bapak : “ Iya, kadang–kadang aja kok. Pernah ke Borobudur, Malang , Surabaya, dan kota lain untuk tamasya. “

Akoe : “ Dulu, Bapak kerja dimana, kok bahagia sekali masa pensiun ini. “

Bapak : “ Saya dulu di Departemen Pajak Dek, Direktorat Jenderal Depkeu. Ya kalau bisa Adek nyoba daftar aja di departemen pusat, siapa tahu nanti bisa nyari beasiswa S2 dan nantinya bisa melewati masa pensiun dengan tenang.

Akoe : “ Mmm..begitu ya Pak. “

“ Eh, Pak ternyata hampir sampai Istiqlal, mohon pamit dulu ya. “

Percakapan yang begitu singkat ternyata memberikan banyak pelajaran yang berharga buat saya.

Ada beberapa ibroh yang dapat diambil.

1. Hindari melihat orang dari kemasannya

Walaupun Bapak nya tadi sudah sepuh dan ada sedikit cacat di bagian wajahnya, Bapaknya tadi tetep segar, bugar punya semangat yang tinggi untuk bermain ke kawan lamanya.

2. Pentingnya silaturahmi

Dari usianya yang sudah sepuh, ternyata Bapak ini peduli dengan temen-temennya dahulu untuk saling bersilaturahmi.

3. Peduli dengan kesehatan

Bapaknya tadi bercerita bahwa, ada beberapa makanan dan minuman tertentu yang beliau makan tiap harinya supaya kesehatan tetep terjaga.

Beli tiket kereta buat Kakak

Waktu menunjukkan jam 09.30 sabtu pagi itu, eh ternyata sudah lama juga ya kita maen PS2 à Winning Eleven 102...ga terasa ya kalau puasa-puasa begini maen game, waktu terasa beitu cepatnya.

O..iya aku jadi teringat bahwa aku mau nyariin tiket buat kakakku yang di Prabumulih. Rencana mau balik kampung ‘mudik’ bareng ke Klaten lebaran ini.

Akhirnya jadi juga berangkat ke Stasiun Pasar Senen. Jalanan di sekitar Kwitang ternyata sangat crowded, walaupun hari Sabtu. Apa ini karena dibangunnya jalur busway baru ya ?

Setelah berjalan kaki dari Kwitang, alhamdulillah akhirnya nyampe juga di Stasiun Pasar Senen. Kakak pesen tiket mudik bisa bareng tanggal 21 Oktober ini, eh ternyata setelah lihat-lihat di informasi sudah ga ada seatnya.

Akhirnya, ketemu ama calo tiket disitu. Dan mulailah percakapan.

Calo : “ Bang mo nyari tiket buat mudik ya ?”

Gue : “ Iya nih bos, rencana mau mudik ke Klaten. Pengennya sih dapat tiket yang tanggal 21 Okt. Ini titipan kakak yang mau mudik bareng. Gue sih udah punya. “, celetukku

Calo : “ Keretanya apa ya ?”, tanyanya

Gue : “ Keretanya Senja Utama Jogja, kalau toh ga ada sih gapapa, biar nanti kakakku ‘nembak’ tiket aja di atas kereta. “

Calo : “ Wah, mas sekarang pemeriksaan tiket lebaran lebih ketat lho untuk lebaran ini. Kasihan kan kalau kakaknya nanti diturunin ditengah jalan ?”

Gue : “ O..iya ya pak, situ punya ga tiketnya ?”, tanyaku

Calo : “ Ada sih bos, harganya 175 rb, mau ga ?

Gue : “ Mm....harga normalnya aja cuman 120 rb, masa situ ngambil untungnya hampir 50%, yang bener aja bang. Kalau boleh turun sih 150 rb, gimana ? “

Calo : “ Engga bisa donk, kalau mau 175 rb, pas. “

Gue : “ Ya udah kalau begitu. Kalau ga bisa turun ya ga jadi aja deh. “

Transaksi dengan calo tiket yang sehari-harinya bekerja sebagai jasa pengangkut barang di Stasiun Pasar Senen tersebut akhirnya tidak sukses.

Akhirnya aku menelepon kakakku untuk memberi informasi bahwa kereta bisnis jurusan Jogja untuk pemberangkatan tanggal 20-22 Okt sudah habis. Dan menginformasikan juga kalau ada tiket yang jurusan tanggal 19 Oktober pagi (Fajar Utama Jogja).

Kakak masih agak ragu untuk membelinya, karena dia juga mau berusaha kontak dengan kakak sepupuku yang mau mudik pake mobil, ya umayanlah numpang, hehehehe.

Karena kakak sepupuku susah untuk dihubungi, akhirnya kakak kandungku pesen untuk beli tiket yang tanggal 19 Oktober aja, daripada ga bisa mudik ke Klaten.

Harganya sudah masuk dalam lingkaran H-7, sehingga berharga 120 rb. Kalau normal untuk kereta bisnis jurusan Jogja dikenakan biaya 100 rb.

Akhirnya, hari itu untuk beli tiket kereta api tercapai sudah tujuannya.